Langsung ke konten utama

Amaryllis Di Negeri Es ~ Bahasa Indonesia

Amaryllis di Negeri Es ~ Prolog

 


Matahari menyinari sebuah taman kecil di sebuah taman kanak-kanak.

“Jangan nangis lagi, Fuu. Okay?” aku melakukan yang terbaik untuk menenangkan seorang gadis yang tengah menangis tersedu.

Kemudian, apapaun yang aku lakukan, dia tak mau berhenti.

“Yuu! Minta maaf sekarang!”

“Aku tidak bersalah!” Yuu mencibirkan bibirnya kesamping.

Penindasan terburuk di TK ini selalu dihubungkan dengan Yuu karena berbagai alasan.

“Itu salahnya karena dia tak mau mengoperkan bolanya padaku!”

“Tapi Fuukan salah satu orang yang mulai bermain sejak awal. Kenapa kau tak merebutnya?”

“Aku membuatnya meminjam dariku, tapi dia tak akan pernah.”

“Baiknya.”

Sebuah bola berwarna biru langit mengelinding di kakiku, berayun lambat karena angin.

“Fuu, ini bolanya.”

“Waaahhh!”

“Gak mau.”

—Uu… apa yang harus kulakukan…?

—Aku sangat menyukai anak-anak, tapi aku sudah kehabisan akal untuk mengakhiri situasi ini.

—Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan?

Segera aku tak tahu dengan apa yang harus aku lakukan.

“Oya oya?” ada apa ini?”

Bolanya terangkat lembut, dan seorang lelaki yang mengambilnya kini menunjukkan senyum ramah yang biasa ditunjukkannya.

“Kepsek…!”

“Kerja bagus,” Kepala sekolah menghiburku dengan senyumannya, dia mengkerutkan wajah yang diajukannya untuk mendekati Yuu dan Fuu lalu menepuknya.

“Kalian mau bermain dengan bola ini?” tanyannya lembut, dan Yuu mengangguk.

“Kalian mau bermain dengan bola ini?” Yuu menghadapi pertanyaan itu kembali, dan kepalanya masih tetap terangguk-angguk.

“Ok, Ok.”

Kepala sekolah mengangguk, dan membiarkan bolanya berputar dengan cepat di ujung jari-jarinya. Bola biru langit itu mengeluarkan suara gemuruh saat berputar di ujung jari telunjuknya; Yuu dan Fuu melebarkan matanya saat melihat ini.

“Karena kalian berdua menginginkan bola ini—“

Kepala sekolah berdiri tegak, dan membelahnya dengan tangan kosong.

“Aku akan ‘membaginya’.”

Ratusan tahun sudah berlalu sejak saat itu.

Sampai hari ini, aku masih dapat mengingat kembali kejadian dihari itu.

Warna biru, birunya langit, mentari yang hangat, kilauan emas di TK, wajah nakal Kepala sekolah, dan anak-anak yang memiliki mata yang berkilauan.

Waktu berlalu, Kepala sekolah meninggal, Yuu, Fuu, dan anak-anak lain tumbuh dewasa, usia mereka bertambah, dan akhirnya meninggal.

Di dunia ini, hanya aku satu-satunya yang mengetahui semua itu. Semua ingatan tak akan pernah hilang.

Ah, Kepala sekolah, Kepala sekolahku tercinta—

Apakah pertimbangan ‘ganda’ ku ini benar-benar berhasil?




Sebelumnya :                                                                                                            Selanjutnya :


Illustrasi                                                                                                                    Bab 1



Kontak Kami Di Sini

Postingan populer dari blog ini

Amaryllis Di Negeri Es ~ Ilustrasi

Amaryllis Di Negeri Es ~ Bahasa Indonesia

Amaryllis di Negeri Es ~ Bab 1